Yang mau linknya ni : https://www.youtube.com/watch?v=x-64CaD8GXw
Waktu itu setelah sesaat saya selesai membaca novel yang berjumlah 256 halaman itu,saya tidak menyadari kehadiran sang hujan yang datang tiba-tiba. kehadiran sang hujan yang begitu terlihat jelas di balik kaca jendela kamar yang berada di lantai dua tempat peristirahatan saya. Saya tidak hanya meliha indahnya air jatuh dari langit itu,tapi saya melihat remang cahaya lampu jalan di seberang tempat saya melihat.
Sambil menyerut moccacino kesukaan saya. Saya begitu terpana melihat lampu di sebrang jalan itu,dia kokoh berdiri tegak dan kuat. Di ujungnya terlihat jelas lengkungan cahaya indah kuning kemerah-merahan yang selalu menerangi orang yang melintasi jalan itu. begitu indah,sampai-sampai dia bisa membuat saya bertanya-tanya "kenapa keindahan yang selama ini ada di sekitar saya tapi tak pernah saya sadari?"
Saya kembali duduk di sofa yang mengahadap tepat di depan jendela kamar. Saya menikmati suasana yang tenang dan tentram itu. Sambil memperhatikan lampu jalan itu,pikiran saya mengawang.
*hening
Ssssttt...
Saya tersintak & sadar dari lamunan yang tentram itu. Saya baru menyadari ada FILOSOFI di balik "lampu jalan" itu.
"Betapa hebatnya lampu jalan itu,lampu yang selalu di lewati berpuluh bahkan beratus orang yang menggukan cahayanya untuk menerangi jalan mereka". Betapa bergunanya dia untuk semua orang. aku kagum dengan lampu jalan itu,sangat kagum!
Di saat yang berkesan itu,saya menyempatkan diri untuk membaut puisi untuk orang yang selalu menerangi jalan saya,ini dia :
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Kau berdiri kokoh tegak lurus
Cahaya indah mu yang berpijar kuning ke merah-merahan membuatku terhanyut
Terhanyut akan indah cahaya yang kau beri
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Indah pelita mu tak pernah berhenti menerangi jiwa ku,
Jiwaku yang selalu membutukhkan terang yang kau milki.
Whai lampu jalan ku... ( Ibu )
Maaf kan lah aku yang tak pernah menyadari keberadaan mu,
Menyadari terang yang selama ini slalu kau berikan kepada ku.
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Teruslah sinari hatiku dengan sinar mu
Teruslah menjadi penuntunku ketika ku merasa gelap.
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Ketika engkau sudah tidak sanggup berpijar lagi
Aku yang akan menerangi mu di surga sana
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Tetaplah terang benderang
Menerangi aku,kamu dan orang-ornag yang membuthkan pelita mu
puisi karya : Riko putra zalukhu
Puisi di atas,di persembahkan kepada mama ku "DERNAWILIS" . Orang yang tak pernah berhenti memberi pelitanya kepada kedua buah hatinya. Terimakasih mama,semoga pelita yang selama ini kau pancarkan kepada buah hatimu ini akan berguna sampai akhir hayat kami.
Sambil menyerut moccacino kesukaan saya. Saya begitu terpana melihat lampu di sebrang jalan itu,dia kokoh berdiri tegak dan kuat. Di ujungnya terlihat jelas lengkungan cahaya indah kuning kemerah-merahan yang selalu menerangi orang yang melintasi jalan itu. begitu indah,sampai-sampai dia bisa membuat saya bertanya-tanya "kenapa keindahan yang selama ini ada di sekitar saya tapi tak pernah saya sadari?"
Saya kembali duduk di sofa yang mengahadap tepat di depan jendela kamar. Saya menikmati suasana yang tenang dan tentram itu. Sambil memperhatikan lampu jalan itu,pikiran saya mengawang.
*hening
Ssssttt...
Saya tersintak & sadar dari lamunan yang tentram itu. Saya baru menyadari ada FILOSOFI di balik "lampu jalan" itu.
"Betapa hebatnya lampu jalan itu,lampu yang selalu di lewati berpuluh bahkan beratus orang yang menggukan cahayanya untuk menerangi jalan mereka". Betapa bergunanya dia untuk semua orang. aku kagum dengan lampu jalan itu,sangat kagum!
Di saat yang berkesan itu,saya menyempatkan diri untuk membaut puisi untuk orang yang selalu menerangi jalan saya,ini dia :
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Kau berdiri kokoh tegak lurus
Cahaya indah mu yang berpijar kuning ke merah-merahan membuatku terhanyut
Terhanyut akan indah cahaya yang kau beri
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Indah pelita mu tak pernah berhenti menerangi jiwa ku,
Jiwaku yang selalu membutukhkan terang yang kau milki.
Whai lampu jalan ku... ( Ibu )
Maaf kan lah aku yang tak pernah menyadari keberadaan mu,
Menyadari terang yang selama ini slalu kau berikan kepada ku.
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Teruslah sinari hatiku dengan sinar mu
Teruslah menjadi penuntunku ketika ku merasa gelap.
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Ketika engkau sudah tidak sanggup berpijar lagi
Aku yang akan menerangi mu di surga sana
Wahai lampu jalan ku... ( Ibu )
Tetaplah terang benderang
Menerangi aku,kamu dan orang-ornag yang membuthkan pelita mu
puisi karya : Riko putra zalukhu
Puisi di atas,di persembahkan kepada mama ku "DERNAWILIS" . Orang yang tak pernah berhenti memberi pelitanya kepada kedua buah hatinya. Terimakasih mama,semoga pelita yang selama ini kau pancarkan kepada buah hatimu ini akan berguna sampai akhir hayat kami.
Langganan:
Postingan (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact