"Tiba-tiba cinta datang
kepada ku"
"Saat ku mulai
mencari"
"Tiba-tiba cinta dating
kepadaku"
"Kuharap
dia rasakan yang sama"
(
Maudy Ayunda )
Waktu
itu tepat sehari setelah usia mu menginjak 17 tahun. Semua dimulai begitu
sederhana, senyum dan tawa seadanya. Begitu mesra bahkan bulanpun iri melihat
kesederhanaan ini. Kita saling melempar candaan dan pertanyaan-pertanyaan
konyol, yang kita tahu itu semua hanya untuk menahan waktu yang indah ini agar
tidak berlalu begitu saja. Setiap detik pembicaraan itu begitu membuat ku
terhanyut oleh kepolosan dan kejujuran mu.
Sikap
yang jarang ku temui pada wanita seusia mu. Aku terbawa suasana kelam malam
itu, entah mengapa kata kakak yang selalu kau lontarkan berubah menjadi kamu.
hah.. aku hanya tertawa kecil mendengarkan kata itu.. Sedekat itukah kita?
Oh,
aku lupa mengenalkannya.. Dia adalah adik dari teman dekat ku, namanya Annisa
ulfa. Tapi, aku biasa memanggilnya Uu. Dia memiliki tinggi sekita
155 cm dan postur badan sedikit kurus. Dengan raut wajah yang manis di
tambah dengan gingsum di kanan-dan kiri yang menanbah keelokan wajahnya. Jilbab
yang selalu melingkar di kepalanya membuat aku percaya kalau dia adalah wanita
soleha, gadis yang selalu aku pinta dalam setiap do'a.
Sesekali
aku mendengar suara gaduh preman di pinggiran jalan tempat ku duduk,
hiruk pikuk mereka menemani pembicaraan kita di tengah malam kelam ini. Aku
menatap arlogi yang menempel di lengan kiri ku.
"Sudah
terlalu larut, apa kamu belum mengantuk?" kalimat yang sangat berat ku
ucapkan, karna aku masih ingin melalui malam ini dengan canda mu.
"Kayaknya belum deh, gak
tau beberapa hari ini aku susah tidur" jawabnya dengan nada sedikit lirih.
Selintas,
terbesit di benakku pertanyaan yang begitu gila, iya.. begitu gila! Tak
sadar aku telah 3 menit mendiaminya. Aku tak mau kehilangan waktu yang singakt
ini begitu saja. Sembari membakar tembakau berkulit putih yang sedang ku pegang
di sela jari telunjuk dan tengah tangan kanan ku. Aku bertanya dengan sedikit
cemas..
"Menurut
kamu, apakah mungkin kita bisa bersama?" pertanyaan yang mengawali pagi
yang terlalu dini ini. Aku tak tahu entah mengapa mulut ini tak bisa
menahan kata-kata itu. Di samping aku khawatir dengan jawabannya, perasaan yang
begitu legapun turut menemani ku karna aku bukan tipe orang munafik.
"Kalau
kamu yakin, pasti bisa" jawabnya dengan begitu sederhana. Seakan lebih
meyakinkan ku untuk bisa mendapatkannya. sesederhana inikah dirimu?
Ketika aku ingin
bertanya sekali lagi, tiba-tiba dia mematahkan pertanyaan ku
"Dua
bulan belakangan ini, semenjak kamu datang kepernikahan kak fitri, aku
mulai menyukai mu riko" tambahnya. Jawaban itu seakan membawaku berada di
tepian bukit tinggi bertanah tandus berhawa sejuk dipagi hari di temani suara
burung camar yang bergantung di atas ranting pohon cemara. Begitu sejuk,begitu
dingin... Seakan-akan aku bisa menggapai gumpalan awan putih yang lalu lalang
di depan mata ku.
“Trus,
bagaimana dengan abang mu? Kamu tau kan kalau dia teman dekat ku juga?”
keningku berkerut semeraut, kacau.. kacau.. “tak harus aku merusak semua”
batin ku.
bersambung....

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact