Hy Dermaga, kita bertemu lagi..
Hhmm.. Kamu adalah tempat di mana aku bisa merasa bebas, bebas dari pemikiran dunia yang begitu membosankan ini. Desiran ombak-ombak kecil bekas perahu lewat selalu di tunggu anak-anak yang biasa mandi di tepian sungai. Tak pernah ku lihat warnamu berubah, tetap sama coklat kekuning-kuningan yang mungkin disebababkan oleh air limbah perusahaan yang tidak peduli dengan keindahan mu ini. Setiap sore tiapaku mengunjungimu, aku selalu melihat para pemancing amatir melepas penat memancing ikan di sungai ini. Haha.. Masih sama seperti terakhir kali aku ke sini.
Apa? Aku berubah? Hmm.. Iya aku tak lagi bersamanya ke sini. Sebenarnya aku tak mau membahas dia, tapi tetap saja setiap aku mengunjungimu memang aku selalu membawanya. Sudah empat bulan belakangan ini aku melalui hari-hari berat selepas kepergiannya. haha.. Ternyata aku yang berubah bukan kamu (Dermaga).
Upss.. Dia memanggilku,iya dia. Kenalin namanya Ana,orang yang menemaniku beberapa minggu belakangan ini. Maap aku tak bisa bercerita banyak tentangnya kepadamu. Aku harus buru-buru ni ngantarin dia pulang soalnya suara adzan mulai terdengar dari kejahuan.
Lain kali aku janji cerita deh.. Ok aku pergi dulu ya. See you next time ;)
Kurebahkan badan ini di atas tembok
datar yang langsung menghadap ke langit. Tak kala aku melihat bintang berpijar
begitu terang menghiasi langit kelam di malma ini. Tersadar ku sejenak. Tak
kulihat indah terang bulan di malam gelap. Apakah awan hitam sengaja membalut
menyelimuti indah cahayamu? Aku tak tau.
Kunikmati setiap hembusan angin yang begitu deras menyentuh kulit tipis pembalut tulang ini. Sambil membakar sebatang rokok kesukaan ku dan meneguk sedikit air yang menjadi kebiasaan ku beberapa hari ini. Tiba-tiba perasaan aneh muncul. Aneh... Hingga tak mampu untuk bisa ku ucapkan. Entah apa sebutan yang pantas unuk rasa ini, Perasaan di mana aku merasa benar-benar sendiri. Apakah ini yang di sebut dengan "Kesunyian"? ...
Aku menutup mata mencoba menghilangkan rasa yang aneh ini. "Mungkin dengan menutup mata dan membayangan hal-hal indah akan menghilangkan rasa aneh ini" fikir ku. Tapi....
Semakin aku mencoba lari dari rasa ini, Aku semakin menemukan bayang Mu. Entah mengapa paras indah mu yang malah hadir dalam bayangan ku. Tak banyak gerik yang ku lakukan. Mungkin air mata ini dapat mewakili semua rasa yang tak bisa di jelaskan ini.
Linangan air mata yang tak mampu ku bendung ini terus membasahi kelopak kulit rambut ku. Ingin rasanya ku hujat tuhan atas semua rintihan akan kehilangan dirimu. Untuk apa kita di pertemukan kalau nyatanya harus terpisah? Apakah tuhan sengaja mempertemukan ku dengan mu agar aku bisa merasakan rasa se-sakit ini? Aku tak mengerti dengan semua rencana indah-NYA itu.
Beberapa jam berlalu.
Aku mencoba berteman dengan kesunyian, padahal tadinya aku sangat menakutinya. aku terseyum kecil meihat sikap bodoh ku, "kenapa aku harus takut dengan kesunyian? toh nyatanya dia hakiki kan di jiwa setiap insan", batin ku. Aku berfikir sunyi adalah teman terbaik ku. teman yang menemani ku beberapa jam ini. Sunyi adalah teman paling mengerti tentang keadaan ku ini. Saat semua telah pergi dia hadir dan hanya dia yang menemaniku.
Haah.. Aku mencoba mengusap linangan air mata ini. Bagiku kini kau hanya kenangan dan akan tetap menjadi kenangan terindah. Bila kau merindukan ku. Tataplah langit kelam diatas sana. Sibaklah awan hitam yang menyelimuti bulan dan lukislah paras ku di antara bintang yang berpijar.
Jagalah diri mu di kota yang asing itu, Aku dengar ibu kota kejam. Jadi berhati-hatilah di sana :)
Kunikmati setiap hembusan angin yang begitu deras menyentuh kulit tipis pembalut tulang ini. Sambil membakar sebatang rokok kesukaan ku dan meneguk sedikit air yang menjadi kebiasaan ku beberapa hari ini. Tiba-tiba perasaan aneh muncul. Aneh... Hingga tak mampu untuk bisa ku ucapkan. Entah apa sebutan yang pantas unuk rasa ini, Perasaan di mana aku merasa benar-benar sendiri. Apakah ini yang di sebut dengan "Kesunyian"? ...
Aku menutup mata mencoba menghilangkan rasa yang aneh ini. "Mungkin dengan menutup mata dan membayangan hal-hal indah akan menghilangkan rasa aneh ini" fikir ku. Tapi....
Semakin aku mencoba lari dari rasa ini, Aku semakin menemukan bayang Mu. Entah mengapa paras indah mu yang malah hadir dalam bayangan ku. Tak banyak gerik yang ku lakukan. Mungkin air mata ini dapat mewakili semua rasa yang tak bisa di jelaskan ini.
Linangan air mata yang tak mampu ku bendung ini terus membasahi kelopak kulit rambut ku. Ingin rasanya ku hujat tuhan atas semua rintihan akan kehilangan dirimu. Untuk apa kita di pertemukan kalau nyatanya harus terpisah? Apakah tuhan sengaja mempertemukan ku dengan mu agar aku bisa merasakan rasa se-sakit ini? Aku tak mengerti dengan semua rencana indah-NYA itu.
Beberapa jam berlalu.
Aku mencoba berteman dengan kesunyian, padahal tadinya aku sangat menakutinya. aku terseyum kecil meihat sikap bodoh ku, "kenapa aku harus takut dengan kesunyian? toh nyatanya dia hakiki kan di jiwa setiap insan", batin ku. Aku berfikir sunyi adalah teman terbaik ku. teman yang menemani ku beberapa jam ini. Sunyi adalah teman paling mengerti tentang keadaan ku ini. Saat semua telah pergi dia hadir dan hanya dia yang menemaniku.
Haah.. Aku mencoba mengusap linangan air mata ini. Bagiku kini kau hanya kenangan dan akan tetap menjadi kenangan terindah. Bila kau merindukan ku. Tataplah langit kelam diatas sana. Sibaklah awan hitam yang menyelimuti bulan dan lukislah paras ku di antara bintang yang berpijar.
Jagalah diri mu di kota yang asing itu, Aku dengar ibu kota kejam. Jadi berhati-hatilah di sana :)
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact